Monday, 14 March 2011

Niat Karena Alloh

Oleh : Subandi Baiturrahman

Berikut ini adalah nuansa percakapan antara Alloh dengan hamba-Nya, yang berlangsung kelak di hari kiamat:

“Wahai fulan, ada apa denganmu?
Pada saat manusia lain datang kepada-Ku dengan penuh ketakutan, kamu justeru datang dengan wajah yang berseri-seri?”

“Ya Robbi, hamba datang kepada-Mu dengan gembira, penuh suka-cita, sebab dahulu pada waktu hamba masih hidup di dunia, hamba adalah ahli berperang. Setiap ada kesempatan, kemanapun Rosul berperang menegakkan agama-Mu, maka di sana ada hamba. Dan tidakkah Robbi tahu bahwa hamba mati dibunuh oleh musuh!?”.

Bukankah hamba ini adalah seorang Syuhada’ yang layak bertempat di dalam surga Firdaus, tempatnya para Nabi, karena itu hamba datang menghadap-Mu dengan wajah yang berseri-seri!”.

Rosul dan seluruh pasukan bala tentara menyaksikan bahwa si Fulan memang telah mati di medan pertempuran dengan mati syahid, ketika ditemukan mayatnya pun langsung dikuburkan lengkap dengan pakaian perangnya yang masih menempel di badan penuh noda darah, yang tidak perlu dimandikan lagi seperti layaknya orang mati biasa.

Malaikat Roqib pun mencatat di dalam buku amalan baik, bahwa si Fulan benar-benar telah mati karena dibunuh oleh musuh (sebagai seorang syuhada’).

Namun, apa yang kemudian terjadi?

Ternyata Alloh berfirman: ”Kadzabta (kamu dusta)!.

Dahulu kamu pergi berperang dan mati dibunuh oleh musuh, bukan karena mencari wajah (keridhoan)-Ku.

Kamu berperang tidak karena Alloh, melainkan hanya biar dikatakan “Fulaanun Jarii-un” (artinya: Fulan sang Pemberani/Jawara). Hai Malaikat! Orang ini lemparkan saja ke neraka!

Maka si Fulan yang dahulunya terkenal di dalam sejarah Islam tercatat sebagai “Syuhada’ (seorang yang mati syahid) ternyata dia “Mati Sangit” diseret kakinya oleh malaikat dan kepalanya di bawah menggerus tanah lalu dia dilemparkan ke dalam neraka Jahannam hanya karena niat berperangnya tidak karena Alloh.
Artinya: “ Kami berlindung dengan Alloh dari yang demikian”.

Syirik Khofiy, atau disebut juga syirik yang tersembunyi, syirik yang samar adalah menyekutukan Alloh dengan cara beribadah niatnya tidak karena Alloh, tidak karena mencari wajah (keridhoan) Alloh.

Ini merupakan peperangan dahsyat bagi seorang muslim, seorang mu'min, seorang jama'ah yang harus menang melawannya dalam menjalani ibadah setiap waktu. Karena, ini jauh lebih besar bahayanya dan bila kita sampai kalah, maka akan lebih binasa dari pada perang fisik melawan musuh di medan tempur.

Kalau perang dalam medan laga, lawannya adalah manusia biasa yang masih bisa kita siasati. Akan tetapi, peperangan yang satu ini (melawan ibadah tidak karena Alloh), yang menjadi musuh adalah syaithon yang tidak tampak yang bersemayam di dalam hati, yang senantiasa membisiki manusia agar melaksanakan ibadah dengan tidak karena Alloh (tidak mempunyai harapan: ingin mendapat pahala/rohmat/surga Alloh, dan selamat dari neraka alloh), hanya karena ingin dipuji, ingin didengar, biar dilihat, dan ingin diberi label “Paham Agama” oleh orang lain.

Sebuah hadits yang mengungkapkan tentang percakapan antara Alloh dengan hambanya si Pendekar Perang itu akhir ceritanya adalah niat perangnya hanya ingin di kenal oleh orang lain dengan sebutan “Sang Pemberani, Sang Jawara”.

Dan ternyata hal yang sama juga menimpa kepada orang kaya yang menyerahkan hartanya ke Sabiilillah untuk keperluan agama, di hatinya terselip niat biar dikenal oleh orang lain dengan sebutan “Jawwadun: Dermawan”.

Dan bahkan dialami pula oleh Qori’ kenamaan, yang nyaris seluruh hidupnya dia gunakan untuk menyiarkan agama, menyebar luaskan ilmunya sehingga menjadi Qori’ kondang. Kenyataanya, di hatinya terbersit niat agar dikatakan “Qori’un: Ahli Qiro’at”, Sang pembaca Al-qur’an yang bersuara merdu.

Ini sungguh ironi. Semestinya ‘Ulama lebih waspada karena ilmunya lebih banyak. Namun, kenyataannya dia pun tidak luput dari gempuran-gempuran bisikan syaithon yang terkutuk itu dengan melalui syirik khofiy ini.

Dan syaithon berhasil. Karena perang melawan bisikan syaithon yang medan tempurnya adalah di dalam hati, ini jauh lebih berat mengatasi / mensiasatinya dari pada pertempuran di medan perang alam terbuka melawan musuh dari golongan manusia.

Alasannya :
- Pertama, bertempur di medan perang itu terbatas hanya kaum laki-laki yang kuat, dan yang mampu. Sedangkan berperang melawan syaithon, yang medan tempurnya adalah hati, ini tidak perduli orang perempuan, orang tua, orang yang sudah udzur, tanpa terkecuali.

- Kedua, perang melawan syaithon di dalam hati ini keadaannya tidak tampak hiruk-pikuk, tetapi berlangsung dengan diam-diam, tidak ada orang lain yang melihatnya, bahkan malaikat pun tidak mengetahuinya.

- Ketiga, serangan syaithon yang dahsyat itu bisa datang kapan saja pada setiap saat dengan tiba-tiba, sedang sholat menghadap Alloh saja niat karena Alloh pun bisa melayang-hilang, apa lagi hanya di hadapan umat manusia biasa, misal saja: sedang tampil berbicara di depan umum di atas mimbar/podium. Ini rentan, rawan dari godaan syaithon hingga tidak karena Alloh.

- Keempat, Serangan syaithon ini akan menyerang pada semua golongan, tanpa mengenal pandang bulu: Pendekar (pahlawan perang), Dermawan (penyandang dana), Qori’ (ahli membaca Al-qur’an dengan suara merdu), bahkan seorang ‘Ulama’ (orang yang berilmu agama tinggi). Apalagi bagi si pencari harta (kekayaan), tahta (kedudukan/pangkat), wanita (isteri banyak/kolektor isteri) untuk kepentingan agama, itu semua merupakan makanan empuk bagi syaithon, sehingga berubah menjadi salah niat yaitu tidak karena Alloh. Termasuk yang harus waspada adalah bagi orang yang sedang mencari jodoh, baik dia itu seorang duda, janda, jejaka atau pun seorang perawan. Ini juga sangat rentan, rawan dari godaan syaithon hingga tidak karena Alloh.

- Kelima, jika kalah (mati) di medan perang fisik melawan musuh sebab membela diri, keluarga, harta dan agama, maka sebagai ganjarannya adalah Surga Firdaus. Namun, jika kalah perang di medan hati melawan bisikan syaithon hingga tidak karena Alloh, lalu mati maka di hukumi mati keadaan syirik khofiy, berarti mati dengan Su’ul Khotimah (akhir hidup yang jelek), adapun sebagai ganjarannya adalah Neraka Jahannam. Jadi, alangkah sangat tipisnya batas antara Surga Firdaus dengan Neraka Jahannam. Tolok ukurnya adalah isi hati, yaitu karena Alloh dan tidak karena Alloh (artinya: karena Alloh hasilnya surga, tidak karena Alloh hasilnya neraka, capek deh).

Adapun upaya-upaya untuk memenangkan pertempuran melawan bisikan syaithon di medan hati itu, adalah sebagai berikut ;

1. Selalu merendah hati, jangan ingin dipuji orang, jangan menyanjung diri sendiri misal; Dengan menyanjung-nyanjung baik itu secara tersirat maupun tersurat, amanah-amanah atau jasa-jasa pada diri sendiri.

2. Jangan memuji orang lain di depannya, karena itu sama halnya dengan memenggal leher sahabatmu, dengan kata lain “Waihaka Qotho’ta ‘Unuqo Shoohibika”.

3. Perbanyaklah berdo’a dengan do’anya Rosululloh berikut ini. Boleh di baca di mana saja, setiap ada kesempatan, terutama di sa’at syaithon sedang membisikkan sesuatu yang dapat menghilangkan niat karena Alloh :

Artinya: “Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung dengan-Mu dari jika aku menyekutukan pada-Mu dan aku mengetahuinya (syirik yang kelihatan)”. Dan aku mohon ampunan kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui (syirik yang tersembunyi)”.

Ketidaklancaran dalam beribadah pribadi atau yang lebih luas lagi, misalnya: Ketidaklancaran dalam mengurusi jama'ah, penyebabnya adalah tidak karena Alloh, tidak sak dermo. Ada conflict of interest, benturan kepentingan, ada agenda lain yang tersembunyi di hati, di pikiran, ada nges-nges (keinginan-keinginan yang tersembunyi).

Maka dari itu waspadai agar hati selalu tetap karena Alloh dalam segala hal, sebagaimana hadits berikut ini :

Artinya: “Barang siapa yang cinta karena Alloh, dan marah karena Alloh, dan memberi karena Alloh, dan mencegah/melarang karena Alloh maka sungguh telah sempurna keimanannya”. (HR. Abu Daud, Jus 2 hal 523).

Oleh karena sedemikian fatalnya kalah perang di medan hati, akankah surga Firdaus ditukar dengan neraka Jahannam?” Hanya karena harta, tahta, wanita?”. Itu, jelas terlalu mahal taruhannya. Sebab, bukankah tanpa syirik khofiy (ada keinginan-keinginan yang tersembunyi) karena mengikuti bisikan syaithon, Alloh tetap akan memberikan semua itu (baik tahta, harta, maupun wanita)?!”

Dalam firman-Nya :
Artinya: “Dan (ada lagi karunia Alloh) yang lain (selain surga) yang kamu senangi, (yaitu) pertolongan dari Alloh dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan berilah khabar gembira orang-orang yang beriman”. (QS. Ash-shoff, No : 61, Ayat 13).

Kalau kita teliti, maka nyatalah bahwa ajaran agama Islam, penuh dengan hukum-hukum yang berkaitan dengan urusan qolbu/hati, yang kesemuanya itu bertujuan kearah terbinanya hati yang penuh dengan keikhlasan dalam beribadah sehingga akan dengan mudah terbentuk komunitas yang mahabbah (mencintai) dan marhamah (menyayangi).

Maka setiap insan, harus berusaha menanamkan benih ketulusan hati dalam memberikan cinta dan kasih sayangnya, agar jama’ahnya menjadi sebuah komunitas yang berbudi luhur, lahir maupun bathin.

Sebab masing-masing jama’ah itu pasti akan menjadi satu anggota masyarakat dari tetangga sekitarnya, yang mau tak mau harus tunduk dan patuh kepada hukum bertetangga, norma susila. Karenanya, maka segala macam kebaikan, juga segala macam keburukan yang akan menimpa tetangga, keluarga dan rumah tangga tak akan terlepas dari pertanggungan jawab.

Apalagi kalau memang keburukan tersebut berasal dan keluar dari orang jama'ah, sudah barang tentu perbuatan tersebut akan merusak citra Lembaga Dakwah Islam Indonesia itu sendiri, akibatnya adalah masyarakat tidak bersimpatik atau bahkan malah menolak kehadiran lembaga dakwah tersebut.

Tidak cukup sampai di situ saja. Bahkan, bisa-bisa mereka menuduh dengan tuduhan yang tidak-tidak, seperti mengatakan, "Sarang Teroris". Naa 'uudzu billaahi mindzaalik(a).

Ditulis Oleh : Bukan Pujangga // 16:55
Kategori:

0 comments:

Post a Comment